rudyheryanto

Pilih nyawa atau cinta!*

Dalam Edisi 011 di 3 Desember 2007 pada 2:49 pm

“Pilih nyawa atau cinta!”
Perempuan bandit itu menodongkan pisaunya yang menyeringai ke batang leherku. Aku rasakan perkataannya menekanku; aku merinding. Baru kali ini aku ditodong dengan perkataan seperti itu. Pengalamanku yang sudah-sudah pastilah “pilih nyawa atau harta”. Sedang ini aku harus memilih apa? Nyawa? Apa untungnya ia membunuhku. Toh kalau aku mati juga tak akan ada yang akan menangisiku. Tak ada yang merasa kehilangan kalau aku mati. Pilih cinta? Aku tak tahu resikonya kalau aku menyerahkan cintaku. Jadi aku jawab “aku tidak tahu resikonya kalau aku memilih cinta. Katakan padaku apa yang akan kau inginkan dari cintaku.” “Kalau nyawa sudah tentu kau aku habisi. Tapi kalau cinta sudah tentu kau kuperkosa. Tahu! Dasar lelaki tolol!”. Katanya sambil merenggut kerah bajuku keras-keras dengan jemarinya yang lembut. Tatapan matanya yang tajam seperti hendak menelanku hidup-hidup. Aku kaget baru kali ini kata-kata itu aku dengar. Sungguh betina sekali perempuan bandit ini. Setan apa yang membuatnya seperti ini. Setahuku hanya lelakilah yang biasanya memperkosa perempuan. Namun ini aneh, kok ada perempuan yang gila seperti perempuan bandit ini. Jadi “kau mau memperkosaku?”. Tanyaku terbata-bata. “ya itupun kalau kau mau dengan ikhlas dan sukarela. Kalaupun tidak kau akan aku paksa untuk melayaniku.” Jawabnya sambil mendekatkan wajahnya yang cantik kewajahku.
“Apakah tidak ada pilihan lain misalnya selain nyawa dan cinta?”. Tanyaku mencoba melakukan lobi. “Huh lelaki tolol. Aku sudah bosan merampok harta dan membunuh. Aku ingin yang lain. Jadi kuputuskan merampas cinta. Tahu!.” Bentaknya berapi-api. “belasan tahun aku merampok dan membunuh. Puluhan juta aku dapatkan dan puluhan juga nyawa yang harus aku habisi. Aku muak dengan semua itu. Aku ingin memiliki cinta. Cinta yang sesungguhnya. Ya hanya itu saja.” Cerocosnya sambil terus matanya yang berbulu lentik bermain-main memeta wajahku yang dari tadi berpeluh.
“Lalu sudah berapa lelaki yang kau todong seperti aku ini?”
“Belasan bahkan puluhan yang aku todong sepertimu. Namun aku tidak suka mereka. Aku bunuh semuanya. Aku cincang kelaminnya, dan isi otak mereka aku buraikan kejalan-jalan menjadi makanan anjing kudisan.”
“Kenapa kau melakukan itu? Padahal dari merekapun mungkin kau akan mendapatkan cinta seperti apa yang kau inginkan.”
“Aku pikir juga begitu. Namun dari bau mulut, bau keringat dan mata mereka yang jalang, aku mengerti bahwa mereka sudah tidak perjaka lagi. Mereka sering menaruh kelaminnya kelubang-lubang pelacuran. Mata dan otak mereka sering menyambangi lekuk-lekuk tubuh perempuan. Aku benci hal itu.”
“Lalu kenapa pula kau ingin memperkosaku. Bukankah itu sama saja kau sama dengan pelacur.” Gumamku pelan.
“Apa kau bilang PELACUR. Sialan kau. Bajingan. Asu. Baru kali ini ada lelaki tolol macam kamu memakiku seperti itu. Huh” PLAK ia menampar wajahku. Rasa panas yang menyayat menembus gusi-gusiku. Kemudian rengutan keras menyedak leherku.
“Hei kau! kalau kau bilang sekali lagi aku pelacur. Akan aku taruh buah zakarmu kemulutmu. Tahu!.” Bentakkannya mendenging ditelingaku.
“Maaf.” Kataku pelan gemetaran. “Kalau kata-kataku menyinggungmu.”
“Maaf maaf enak saja kau! Lelaki memang begitu. Mudah saja mulutnya memuncratkan kata maaf. Brengsek! Ternyata semua lelaki sama saja. Ternyata semua lelaki sama busuknya.” Tiba-tiba perempuan bandit melelehkan air mata. Namun sekilat kemudian ia telah menyekanya dan kembali menyorongkan mata pisaunya yang tajam itu keleherku yang rapuh.
“Sekarang begini saja. Katakan pilih mana nyawamu atau cintamu.” Jemari tangannya segera menjambak rambutku kebelakang.
“Bagaimana kalau aku pilih ATAU saja!.”* Jawabku sekenanya. Karena bagiku tidak ada pilihan yang baik diantara keduanya. Pun kalau aku memilih cinta sama saja perempuan bandit itu memberaki keperjakaanku ini. Mengencingi harga diriku sebagai lelaki. Memangnya semua lelaki sama seperti apa yang dipikirkannya. Mendengar jawabanku ia mendelik sambil tersenyum tipis. Aku tidak tahu apa maksud senyumannya itu.
“Lelaki tolol. Kau memang pintar. Baru kali ini aku menemukan lelaki tolol sepertimu. Ha ha ha ha!.” Perempuan bandit itu tertawa terbahak-bahak sampai terguncang-guncang. Jemari tangannya yang tadi menjambakku perlahan mulai mengendor dan terlepas. Pun pisaunya yang menyeringai itu juga telah membesat dari bidang leherku. Ia menepuk-nepuk pipiku masih sambil tertawa.
“Lelaki tolol, apa kau telah memiliki kekasih?.” Katanya menyelidik.
“Kalau belum kenapa dan kalau sudah kenapa?.”
“Kalau sudah beruntunglah kekasihmu itu memilikimu. Kalau belum carilah perempuan yang baik-baik. Jangan cari perempuan yang begundal yang mencintaimu hanya karena harta dan wajahnya saja.” Lirihnya serius.
“Pun kalau ada perempuan yang seperti kau bilang. Pastilah aku sudah lama memilikinya. Namun kau lihat sendiri aku hanya lelaki miskin.” Jawabku tak kalah serius.
“Huh sungguh kasihan sekali dirimu. Pergilah! Jangan sampai aku menemukanmu lagi. Pergi cepat!. Kalau aku menemukanmu lagi aku akan benar-benar melumatmu.” Katanya memekik penuh pengusiran sambil membebaskan tekanannya dariku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan pergi meninggalkannya. Masih sempat aku melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Tubuhnya yang ramping dan rambutnya yang hitam panjang tersipur angin. Ia sendiri menunduk.
***
“Ah bayangan lelaki itu kembali mengganggu tidurku.” Desah berat perempuan bandit itu. Bibirnya yang kemerahan menyentuh bibir gelas itu, menenggak isinya hingga tandas. Matanya yang menyala membakar sendiri hatinya yang resah. Mengapa baru kali ini hatiku seperti ini. Mata lelaki itu; suara lelaki itu huh aku tak bisa melupakannya. Tak pernah aku menemukan lelaki yang kata-katanya membuatku bergidik seperti ini. Ah andai aku menemukan lelaki itu kembali aku ingin ia memberikan cintanya hanya untukku. Dan tentu saja akan aku berikan cintaku ini hanya untuk dirinya. Isi kepala perempuan bandit lalu berkelebatan tentang bayangan-bayangan indah, dan ia tersenyum sendiri.
***
Lelaki itu bergelimpang kekanan kekiri diatas ranjangnya yang reyot. Berulang kali ia mencoba memejamkan matanya. Namun tak bisa. Bayangan perempuan bandit yang tadi siang menodongnya kembali menjerat kelelakiannya. Mata perempuan itu, suara perempuan itu. Benar-benar membuatnya teringat terus. Ah seandainya kau bukan perempuan bandit, akan aku nikahi kau, akan aku kawini kau. Hi hi hi tawa kecilnya menyembul. Tapi apa mungkin aku bertemu kembali dengannya lagi. Tahu begini mending tadi aku menyerahkan cintaku saja. Ah perempuan bandit kau memang cantik, sayang kau harus bertahan hidup didalam kegelapan dan kekerasan. Seandainya kau mau melepaskan dirimu dari pekerjaanmu itu, aku akan mencintaimu. Ya mungkin saja aku sekarang jatuh cinta. Tapi apa mungkin ia mau menerima cinta seorang lelaki miskin sepertiku?
***
Maka pada suatu hari lelaki itu kembali berjalan menuju jalan yang pernah mempertemukannya dengan perempuan bandit itu. Ia ingin mengenang perjumpaan yang membuatnya berbulan-bulan tak bisa tidur nyenyak. Ia berdiri sambil memandangi lekat-lekat tempat dimana perempuan bandit menodongnya.
“Pilih nyawa atau cinta!”
Lelaki itu kaget. Gigi pisau itu menekan lehernya dari belakang. “Aku pilih cinta. Aku tidak sayang dengan cintaku. Aku bosan dengan cintaku ini. Ambil saja cintaku, toh kalau aku kehilangannya itu bakal mengurangi bebanku selama ini. Ambilah!” Suara lelaki itu terlepas diudara dengan berat penuh keyakinan.
“Kau kau kau lelaki itu ya?” Pisau itu hampir terjatuh, namun dengan cepat tersorong lagi kemuka lelaki itu. Perempuan bandit tergelagap.
“Ya aku lelaki yang pernah kau todong! Kau tahu kau membuatku sakit selama ini. Jadi ambilah cintaku! Terserah mau kau perkosa atau kau cincang.”
“Mengapa kau datang lagi kesini? Aku kan pernah bilang kalau aku menemukanmu akan kulumat kau.”
“Ya aku ingat itu. Namun lebih baik kau lumat aku daripada aku tersiksa oleh jatuh cinta ini. Aku jatuh cinta kepadamu perempuan bandit. Maukah kau menerima cintaku ini perempuan bandit.”
“Jadi kau memilih menyerahkan cintamu kepadaku?”
“Ya aku menyerahkannya kepadamu.”
“Jadi kau mau aku perkosa?”
“Ya aku mau kau perkosa.”
“Sekarang?”
“Ya”
Maka diperkosa dan dilumatlah cinta lelaki itu berkali-kali, berpuluh-puluh kali, beratus-ratus kali, beribu-ribu kali, berjuta-juta kali. Pagi, siang, malam. Dan sampai cerita ini selesai ditulis lelaki itu masih diperkosa perempuan bandit itu.

*berdasarkan Puisi Joko Pinurbo.

  1. Kereen… salam kenal :)

  2. salam kenal juga.

  3. This is a good story. Hope hearing the next story anymore.
    ( Penyair-Komunitas Sastra Bunga Pustaka Purwokerto)

  4. Apa kabar, Adin? tadi aku kirim puisi ke Hysteria. Semoga diliat…heee…heee

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.