Surealisme bisa jadi merupakan suatu yang kedaluwarsa dalam dunia sastra, jika dikaitkan dengan kondisi sastra yang senantiasa berkembang. Eksperimen dalam berkarya senantiasa dilakukan, sehingga memunculkan hal-hal baru yang wujudnya berbeda dengan yang lama. Hal ini yang mendatangkan variasi, dan menyebabkan yang lama menjadi tidak terlalu populer lagi. Barangkali surealisme adalah salah satu fenomena yang mempengaruhi sastra itu. Fenomena yang pernah ada, sedang atau akan memberi warna bagi sastra.
Pada dasarnya surealisme merupakan gerakan berontak terhadap belenggu rasionalisme. Surealisme ingin membebaskan manusia dari belenggu kebudayaan intelektualis dan utilitaris, memulihkan kembali manusia yang utuh dengan segala daya vitalitasnya. Permainan imajinasi yang timbul dari alam bawah sadar membuka jalan kearah surealitas kenyataan yang unggul, yang melampaui tuntutan logika dan kegunaan.
Istilah surealise atau super realisme berarti melampaui kenyataan. Istilah yang diciptakan Guillaume Appolinaire ini dimaksudkan sebagai suara berontak yang semula diteriakkan oleh para sastrawan untuk mengguncang dunia borjuis eropa yang mereka anggap sudah mapan, mandeg, dan mengidap penyakit puas diri.
Dalam karya sastra, surealitas muncul ketika balutan imajinasi yang digunakan untuk membalut realitas, dan dituangkan dalam tulisan benar-benar seperti menyuguhkan dunia baru. Di mana dunia itu terpental dari logika.
Jika dibuat pengandaian, surealitas adalah sebuah piring, maka lingkungan di luar piring itulah surealisme. Namun ada juga cara pandang yang berbeda. Cara pandang kedua ini menempatkan surealitas sebagai bagian dari realitas. Ini adalah kesimpulan yang didasarkan atas alasan yang menganggap dunia ini sebagai realitas yang super luas. Seluruh alam ini adalah realitas. Dengan begitu surealisme sebenarnya bersumber dari penangkapan manusia terhadap realitas, yang kemudian mengalami modifikasi dengan variasi imajinasi, dan menghasilkan realitas yang berada di luar jangkauan logika.
Kendati cara memandang tiap orang terhadap sastra terkadang berbeda. Misalnya, ada pembaca yang lebih suka menikmati sastra surealis atau ada pembaca yang lebih suka menikmati karangan realis. Baik itu surealisme maupun realisme tetap tidak bisa dianggap sebagai salah satu wujud pengkotak-kotakkan sastra.
Pendefinisian fenomena-fenomena sastra dalam istilah-istilah tertentu hanya merupakan alat untuk mempermudah pangkajian saja. Bagi golongan penikmat, apalagi pecinta sastra bisa saja persetan dengan itu semua.
Kenapa?
Karena sebuah karya yang baik tidak bisa dilihat dari; apakah itu karya surealis atau tidak. Ketika sebuah karya mampu menyuguhkan hal-hal yang berarti, bisa dirasakan, bisa menimbulkan kesenangan, apalagi bisa menjadikan pembaca menjadi keranjingan membaca sastra, itu sudah merupakan suatu yang luar biasa. Berarti karya sastra telah kembali ke hakikatnya semula, yaitu sebagai bacaan yang bisa memberikan kegunaan dan kesenangan. Dulce et utile.
Mengingat kembali, motif pertama kemunculan surealisme adalah sebagai gerakan pendobrak dunia borjuis eropa yang sudah mapan, mandeg dan mengidap penyakit puas diri. Secara tidak langsung, ini merupakan luapan keinginan untuk mendapatkan obyek baru bagi pelampiasan ketidakpuasan mengeksplorasi realitas yang sudah mentok. Dan keinginan itu dituangkan dalam wujud penjelajahan terhadap dunia yang lebih luas, dunia yang tak terbatas logika, dunia surealitas.
Beberapa hal yang perlu ditandaskan, yakni cara kita dalam memperlakukan surealisme. Terkadang kita terlalu mudah bermain-main dengan surealisme. Ketika seseorang tidak mampu membuat karya yang bagus, yang berdasarkan atas kematangan pengalaman, pengetahuan dan cara penyampaian yang bagus, dengan gampangan mereka melarikan diri ke sesuatu yang tidak jelas, dengan harapan karyanya dianggap surealis. Padahal yang seperti itu adalah perbuatan orang bodoh yang ingin terlihat pintar.
Bermain-main dengan surealitas dalam berkarya seharusnya didasari dengan penghayatan dan pemahaman yang lebih, terhadap realitas, baru melangkah ketahap surealitas. Dengan begitu surealisme tidak menjadi dangkal dan kehilangan arti.
Surealisme adalah titik yang berada di atas puncak realitas. Surealisme banar-benar menjadi wahana baru ketika seorang pengarang benar-benar telah merasa tidak puas dengan hanya bermain-main dengan realitas saja. Dan bisa jadi, untuk mengatasi ketidak puasan itu seorang pengarang akan melarikan diri ke surealitas atau mengkolaborasikan realitas dengan surealitas. Dengan begitu sebuah karya sastra yang dibalut unsur surealisme tidak akan menjadi karya yang dangkal. Surealisme tidak akan sekedar menjadi karya yang sekedar irasional, melainkan benar-benar bisa menjadi super realitas yang mampu membuka jalan kearah surealitas kenyataan yang benar-benar unggul.
Oleh: Tulis Gus Yon


![Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU] Framing #2 - Drottningholms slott/Drottningholm Palace (UNESCO World Heritage) [Explore First Page, THANK YOU]](http://static.flickr.com/7102/7204258846_3843eb8ecb_t.jpg)
Permisi, tulisan ini aku trackback di Am I Surealis?
Terima kasih.